REVIEW BUKU
PEMBUKTIAN SAINS DALAM SUNAH
Diajukan
untuk memenuhi tugas mandiri
Mata
Kuliah : Keterpaduan Islam dan IPTEK
Dosen
Pengampu : Edy Chandra,

Disusun
oleh :
Nama : Siti Azizah
NIM : 1413162042
Kelas : Bio-C/VII
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSAN IPA BIOLOGI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
2016
PENYUSUN REVIEW BUKU
Nama :
SITI AZIZAH
NIM :1413162042
Jurusan : Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Prodi : TADRIS IPA Biologi
Semester : VII
KETERANGAN SUMBER BUKU
Judul :
Pembuktian Sains dalam Sunah
Penulis : Dr. Zaghlul An-Najjar
Editor : Tim Redaksi Pustaka Hidayah
Cetakan : 2007
Tebal buku :
260 hlm
BAB I : PENDAHULUAN
A. Pendahuluan
Risalah-risalah
langit adalah petunjuk Allah Swt bagi manusia dari berbagai permasalahan dimana
manusia tidak mungkin membuat konsep dan prinsip yang benar dalam menghadapi
permasalahan tersebut karena sudah masuk dalam area metafisis mutlak yang tidak
mungkin dapat dicapai oleh manusia kecuali harus dengan wahyu dari langit. Atau
karena permasalahan tersebut sudah masuk dalam area rambu-rambu perilaku yang
selamanya tidak akan dapat dibuat sendiri oleh manusia secara benar. Misalnya,
persoalan-persoalan akidah (metafisis mutlak), ibadah (perintah Ilahiah
mutlak), akhlak dan mu’amalah
(rambu-rambu perilaku). Dan semua ini merupakan persoalan-persoalan yang jika
digeluti oleh manusia tanpa hidayah Tuhan yang murni, maka ia akan tersesat
jauh.
Jika
kita amati persoalan-persoalan ini di dalam Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya,
maka jelas sekali disana bahwa Alquran tidak mungkin merupakan hasil karya
manusia, akan tetapi Alquran adalah firman Allah Yang Maha Pencipta. Adapun
nabi serta rasul terakhir (Nabi Muhammad SAW) yang menerima Alquran tersebut
merupakan orang yang tersambung dengan wahyu dan diberi pelajaran oleh Sang
Maha Pencipta langit dan bumi.
Inilah
buku yang menurut saya, diharapkan bakal membangkitkan minat lebih jauh
terhadap berbagai persoalan-persoalan dalam kehidupan. Dari penjelasan
pendahuluan tentang persoalan kehidupan yang terdapat solusinya dalam Alquran
yang penulis paparkan, penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana pembuktian
sains dalam sunah itu? Dengan harapan kita bisa mendapatkan pengetahuan serta
menambah keimanan kita terhadap Allah Swt.
B. Rumusan
Masalah
1. Menjelaskan
tentang apa saja kandungan buku “zikir dan kontemplasi dalam Tasawuf”?
2. Apa
yang di garisbesarkan penulis pada buku “zikir dan kontemplasi dalam Tasawuf”?
3. Apa
kelebihan dan kekurangan dari segi penulisan dan penggambaran buku “zikir dan
kontemplasi dalam Tasawuf”?
BAB II : ISI BUKU
“Zikir
dan kontemplasi dalam tasawuf”. Buku karangan Dr. Mir Valiuddin ini memiliki 8
bab diantaranya Penyucian jiwa, membersihkan hati, zikir dan doa, berbagai
metode zikir, berbagai metode zikir tarekat chisytiyyah, mengosongkan sirr,
mengosongkan sirr 2, pencerahan ruh. Dibawah ini akan dijelaskan inti dari bab
yang sudah disebutkan.
Penyucian Jiwa
Dalam
bab ini dijelaskan cara-cara penyucian jiwa. Penyucian jiwa berarti menghiasi
diri dengan sifat-sifat terpuji, sesudah membersihkannya dari sifat-sifat
tercela dan hewaninya. Cara membersihkannya diantaranya penyucian kalbu. Yang
dimaksud dengan menyucikan kalbu ialah menghapus darinya kecintaan pada dunia
fana ini, kekhawatirannya atas berbagai macam kesedihan dan kedukaan,
kecenderungannya pada hal-hal duniawi serta segenap pikiran muluk-muluknya yang
sia-sia. Kemudian adalah pengosongan sirr, ini berarti mengosongkan sirr dari
segala macam pikiran yang bakal menyimpangkannya dari ingat kepada Allah atau
zikir. Dan pencerahan ruh yaitu berarti mengisi jiwa dengan visi tentang Allah
dan gelora cinta-Nya.
Dalam
bab ini terdapat 3 sub bab yaitu nafs, penyucian nafs dan sifat-sifat nafs.
Pada sub bab nafs, dijelaskan nafs secara harfiah yang berarti esensi dan
esensi sesuatu disebut jiwa sesuatu atau realitas. Nafs secara terminologi
berarti jiwa jasmani atau hawa nafsu. Sub bab yang kedua yaitu penyucian nafs.
Pada sub bab ini dijelaskan penyucian nafs yaitu dengan pengekangan diri mutlak
dan sama sekali tidak menghindarkan diri dari Allah. Penyucian nafs mustahil
dilakukan tanpa mengamalkan pengekangan diri, kerja keras dan
kesungguh-sungguhan.
Membersihkan Hati
Membersihkan hati bermakna menghapus
darinya kecintaan pada dunia dan hal-hal duniawi serta menghilangkan darinya
segenap kesedihan, kedukaan dan kekhawatiran atas segala sesuatu yang tidak
berguna. Hal diatas adalah inti dari pembahasan pada bab 2. Para syaikh tarekat
berpandangan bahwa semakin manusia tenggelam dalam berbagai urusan duniawi dan
sibuk dengan hal-hal material, maka ia semakin beroleh banyak kesulitan dan
bertambah kesal. Maksud dan tujuan Allah mengutus para Rasul kepada umat
manusia ialah menjauhkan manusia dari dunia yang fana dan mengantarkannya
menuju Realitas Hakiki. Untuk membersihkan hati adalah perlu untuk secara terus
menerus dan sadar merenungkan kebenaran-kebenaran di atas. Yang demikian ini
bisa membantu melahirkan perubahan dalam sikap mental seseorang. Kalau tidak,
ia akan tetap saja, sebagaimana yang dikatakan Al-Qur’an : “mereka mengetahui yang lahir saja dari
kehidupan dunia. Tetapi tentang akhirat mereka tiada peduli.”(QS. 30: 7)
Terdiri dari sub bab bimbingan
syaikh yang didalamnya berisi cara mengajarkan praktik-praktik sufi yang sesuai
dengan tempramen dan kecenderungannya. Dengan demikian, secara bertahap dan
dengan cara yang mudah. Dan sub bab zikir yang didalamnya berisi makna zikir
sebagai metode paling efektif untuk membersihkan hati dan mencapai kehadiran
Ilahi. Objek segenap ibadah ialah mengingat Allah dan hanya terus menerus
mengingat Allah (dzikr) sajalah yang bisa melahirkan cinta kepada Allah serta
mengosongkan hati dari kecintaan dan keterikatan pada dunia fana ini. Yang
dimaksud dengan hati yang bersih adalah hati yang di dalamnya tidak ada
berbagai perasaan yang mengganggu ketenangan jiwa, dan yang terbebas dari
segala sesuatu selain Tuhan, yang bisa mengalihkan perhatian.
Zikir dan Doa
Menurut
mujtahid, mkna “mengingat” Allah adalah “apa saja yang tidak bisa dilupakan
dalam keadaan bagaimanapun”. Ini sama dengan yad-dasyt atau “terus-menerus
mengingat” sebagaimana kaum sufi besar menyebut kebiasaan ini. Melupakan Allah
sama artinya dengan melupakan diri sendiri. Ini berarti bahwa berpaling dari
mengingat Allah menyebabkan diri dikuasai oleh setan (atau kekuatan-kekuatan
bukan Tuhan) yang setiap saat mendorong seseorang serta membisikkan berbagai
kejahatan ke dalam hati. Sub bab beberapa zikir penting, berisi tentang
beberapa zikir diantaranya salat, membaca Al-Qur’an, melantunkan asmaul husna,
mengucapkan tahlil, takbir, syahadat, isti’adzah, dan mendoakan Nabi Muhammad
SAW atau durud semuanya termasuk dalam zikir atau mengingat Allah. Dan hadits
Nabi Muhammad memberi tahu kita,”Hari kiamat akan terjadi jika
Allah,Allah,Allah tidak disebut-sebut lagi di muka bumi”. Bencana tidak akan
menimpa seseorang yang yang mengucapkan Allah,Allah,Allah.
Sub
bab metode-metode membersihkan hati, berisi tentang metode membersihkan hati
yaitu dengan cara ketika berwudhu sambil berniat membersihkan lahir dan bathin,
selama melakukan wudhu hendaknya dibaca kalimat syahadat. Kemudian dalam buku
ini dianjurkan untuk salat malam yaitu salat tahajjud. Ini bisa mendekatkan
diri pada kedekatan Allah dan rahmat-Nya, inilah juga yang menyebabkan
dosa-dosa diampuni serta menyelamatkan kita dari berbagai dosa. Buku ini
menginstruksikan agar seseorang mempersembahkan ganjaran dan pahala salat malam
kepada semua wali, kedua orangtua dan seluruh pengikut Nabi, ia juga mesti
memohonkan berkah dari Allah untuk orang-orang yang sudahmeninggal dunia. Bagi
dirinya, ia mestilah tidak meminta apapun dari Allah melainkan diri-Nya
sendiri.
Berbagai metode zikir : tarekat Qadariyyah
dan Naqsyabandiyyah
A. Tarekat
Qadariyyah
Dalam
tarekat ini, zikir dilakukan dengan keras (yakni bersuara) tetapi tidak terlalu
keras. Zikir utama tarekat ini adalah laa ilaaha illallah. Zikir al-khafi atau
zikir diam laa ilaaha illallah bisa dilakukan dengan cara serupa yang ditempuh
untuk zikir keras. Metode yang digunakan yaitu dengan memperhatikan tarikan
napas. Zikir ini dikenal dengan zikir berupa menjaga pernapasan, dan sangat
efektif dalam menghilangkan perasaan munafik dan bisikan-bisikan jahat dan
mempunyai aspek-aspek lainnya juga. Zikir al-khafi mempunyai efek-efeknya
sendiri yang mencerahkan: ia menyulut api kerinduan pada Allah, membina
kecintaan pada Allah dalam hati, melahirkan perenungan serta memungkinkan sang
dzakir lebih mengutamakan Allah ketimbang segala sesuatu lainnya.
B. Tarekat
Naqsyabandiyyah
Dalam
tarekat ini, diyakini bahwa waktu luang seseorang itu sangatlah berharga dan
bernilai serta tidak boleh dibiarkan berlalu sia-sia begitu saja. Yang
dilakukan pertama kali adalah seseorang mesti menyingkirkan berbagai macam
gangguan dari hatinya, lalu membebaskan hatinya dari segala sesuatu yang
menyebabkan timbulnya kebingungan bathin seperti marah, lapar, dll. Dalam zikir
laa ilaaha illallah, kondisi paling penting ialah penafian gagasan bahwa tidak
ada tuhan yang berhak dan pantas disembah selain Allah. Dalam tarekat ini juga
diamalkan zikir laa ilaaha illallah. Zikir lainnya yang dilakukan oleh para
sufi dalam tarekat ini disebut zikir al-Masyiy al-Aqdam yakni mengingat Allah
sambil berjalan kaki. Kemudian ada juga zikir al-itsbatnal-Mujarrad atau zikir
berupa “penegasan saja” yakni zikir nama Allah tanpa penegasan atau penafian.
Semakin banyak zikir ini dilakukan maka ia akan semakin bermanfaat.
Berbagai metode zikir tarekat
Chisytiyyah
Dalam
tarekat chisytiyyah, sebelum syaikh memberikan perintah lebih jauh kepada
murid, ia menyuruhnya untuk berpuasa sehari, terutama pada hari kamis. Kemudian
syaikh menyuruhnya untuk mengucapkan istighfar dan durud sepuluh kaliserta
membaca QS An-Nisa ayat 103. Para syaikh dalam tarekat chisytiyyah menganjurkan
metode zikir berikut ini : sang murid mesti duduk dengan lutut terlipat atau
duduk bersila dan menghadap kiblat. (ia tidak harus berwudhu terlebih dahulu)
ia mesti duduk dengan tegak, menutup kedua matanya dan meletakkan kedua
tangannya di atas lututnya dan mengingat Allah. Perlu kiranya diperhatikan 7
macam kondisi yaitu keadaan antara, zat, sifat, perpanjangan, penekanan, bawah
dan atas. Yang dimaksud dengan ‘keadaan atara’(barzakh) adalah bentuk kiasan
syaikh. Yang dimaksud ‘zat’ adalah dzat wujud mutlak. Yang dimaksud ‘sifat’
adalah 7 sifat utama Allah. Yang dimaksud ‘pemanjangan’ adalah pemanjangan kata
laa (manakala dilakukan zikir khafi dan itsbat). Yang dimaksud ‘penekanan’
adalah penekanan yang dikenakan pada kata-kata illallah atau pada kata Allah.
‘dibawah’ menunjukkan bahwa manakala sedang berlangsung zikir nama Allah. Yang
dimaksud ‘atas’ adalah bahwa zikir atas nama Allah mestilah dirampungkan dalam
otak.
Anggota-anggota
tarekat chisytiyyah mengamalkan zikir pas-i-anfas atau zikir menjaga napas
sebagai berikut : sang dzakir mengucapkan laa ilaaha dalam napas yang
dihembuskan. Dan illallah dalam napas yang dihirup, dengan lidah hati. Artinya
penafian dilakukan ketika napas keluar dan penegasan dilakukan ketika napas
masuk. Zikir menjaga napas dilakukan dalam hati saja dan tidak dengan lidah
jasmani. Sedangkan ulama fiqih menolak kesahihan zikir dalam hati. Akan tetapi,
zikir atau mengingat Allah dipertentangkan dengan kelalaian, yang karenanya
hanya merupakan sebuah sifat khas hati. Zikir mestilah dilakukan dengan lidah
juga hati. Syah Aklimullah menegaskan bahwa ada dua hal yang mesti dicamkan.
Yang satu ialah menahan napas dan yang lain ialah menghentikan napas. Ada 2
macam menahan napas: mengosongkan dan mengisi. Yang dimaksud dengan
mengosongkan ialah menarik napas dalam lambung dan menarik pusar menuju punggung.
Pengalaman para sufi ialah bahwa menahan napas banyak memberikan manfaat.
Umpamanya saja, kemunafikan dalam jiwa bisa dihilangkan. Perasaan gembira dan
bahkan ekstase bisa dialami.
Satu,
zikir khusus yang diamalkan dengan mengucapkan “wahai Engkau yang bersamaku”.
Zikir berikutnya disebut zikir al-Kulliyat dengan menggunakan kata-kata :
“bersama-Mu segala sesuatu, dari-Mu segala sesuatu, kepada-Mu kembali segala
sesuatu, wahai Yang Maha Segalanya”. Zikir khusus ketiga, yakni “Wahai Engkau
yang meliputi segala sesuatu, secara lahir maupun bathin”.
Mengosongkan Sirr (Takhalliyyah
As-Sirr)
Untuk mengosongkan sirr, diperlukan
‘kontemplasi’ (muraqabah). Kata muraqabah berasal dari kata raqib yang berartiseorang
penjaga, atau seorang pengawal. Menurut para sufi terkemuka, sirr adalah sebuah
organ penglihatan mistis, persis seperti hati (qalb) dan ruh adalah tempat
cinta Ilahi. Para sufi yang berpandangan bahwa sirr adalah sesuatu atau
substansi yang khusus, percaya bahwa sirr adalah fakultas yang lebih tinggi
daripada hati dan ruh. Sebagian sufi berpandangan bahwa sirr bermakna konsepsi
lembut dan halus yang tersembunyi di relung-relung kedalaman ruh. Seorang arif
dengan jelas membedakan antara berbagai fungsi dari lathifah-lathifah atau
fakultas-fakultas ini. Katanya, fungsi nafs ialah mengabdi, fungsi hati ialah
mencintai, fungsi ruh ialah mencari kedekatan dengan Allah dan fungsi sirr
ialah melenyapkan diri dalam pandangan Allah. Muraqabah adalah kesadaran
tentang Allah yang senantiasa mengawasi kita di saat kita tenggelam dalam
berbagai kesibukan sehari-hari. Kontemplasi batiniah adalah mencegah hati dari
memikirkan segala sesuatu apapun, membebaskannya dari segenap pikiran sia-sia,
di saat duduk atau berbaring, dalam keramaian atau sendirian, dan menjauhkannya
dari memikirkan masa lampau atau masa depan.
a. Kontemplasi
menurut tarekat Qadariyyah
Satu,
kontemplasi atas kehadiran Allah, secara diam-diam, sang penempuh jalan
spiritual mengucapkan kata-kata,”Allah hadir denganku, Allah melihatku, Allah
bersamaku”. Dua, “Allah bersamaku”, yang direnungkan adalah ayat Al-Qur’an
berikut ini :’Dia bersamamu dimana saja kamu berada’. Kini ia berpegang teguh pada
keyakinan bahwa Allah bersamanya. Tiga, kontemplasi atas ayat
Al-Qur’an:’kemanapun kamu menghadap, disana ada wajah Allah (QS Al-Baqarah ayat
115)’. Karena Allah meliputi segala sesuatu, maka Dia hadir dalam segala
sesuatu.
b. Tarekat
Chisytiyyah
Satu,
kontemplasi berupa Allah hadir, Allah maha melihat dan Allah bersamaku. Sang
penempuh jalan spiritual mestilah berpandangan bahwa Allah senantiasa bersama
dirinya dan bahwa mustahil Allah berpisah darinya. Dua, kontemplasi kenaikan
kaum arif, disini anda mesti memahami bahwa segenap wujud yang bersifat mungkin
bagaikan cermin. Dan segenap capaianmereka yang bersifat fisikal maupun
spiritual, di dalamnya tak lain hanyalah refleksi dari Nama-nama dan
Sifat-sifat Allah. Tiga, kaum sufi dalam tarekat Chisytiyyah merenungkan
ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini untuk mengosongkan sirr dan mencapai kehadiran
abadi bersama Allah, seperti pada QS Qaf ayat 16 yang artinya “Kami lebih dekat
kepadanya dari urat lehernya”.
Mengosongkan
sirr: kontemplasi dalam tarekat Naqsybandiyyah
Kaum
sufi dalam tarekat Naqsybandiyyah mempunyai cara kontemplasi sendiri. Mereka
menahan napas di bawah pusar untuk sementara waktu dan kemudian, dengan
menggunakan sepenuhnya fakultas-fakultas persepsi, mereka memusatkan perhatian
pada makna yang sederhana, abstrak, dan komprehensifdari kata Allah serta
kemudian menahannya dalam pikiran mereka selama mungkin, menjaganya dan
mempertahankannya. Dalam terminologi mereka menyebutnya dawam al-Hudhur
(kehadiran terus menerus Allah). Kaum sufi dalam tarekat Naqsybandiyyah
menganjurkan mereka yang tidak mampu berbuat demikian untuk berdoa kepada Allah
dan melakukan kontemplasi dengan cara : ‘Ya Tuhanku, Engkaulah tujuan-puncakku.
Aku mendekati-Mu, memisahkan diriku dari segala sesuatu selain-Mu’.
a. Kontemplasi
Kaum Sufi dalam Tarekat Naqsybandiyyah Mujahidiyyah
Kontemplasi pertama dala tarekat ini
disebut Muraqabah al-Ahadiyyat atau kontemplasi Kesatuan Abstrak. Dalam
kontemplasi ini hati menengadah ke langit karena segenap lathifah di ‘alam
perintah’ berasal dari tempat di atas arsy atau ‘singgasana Allah’. Karenanya
manakala hati menoleh ke sumbernya, maka secara alami ia pun menengadah ke
atas. Kontemplasi atas hati, sang penempuh jalan spiritual membayangkan bahwa
hatinya diletakkan persis di hadapan hati Nabi Muhammad SAW.
Kontemplasi atas ruh, sang penempuh
jalan spiritual membayangkan bahwa ruhnya berada persis di hadapan ruh Nabi
Muhammad SAW. Kontemplasi atas sirr, sang penempuh jalan spiritual membayangkan
lathifah sirr-nya sendiri berada di hadapan sirr Nabi Muhammad dan berdoa
dengan penuh keimanan. Kontemplasi atas khafi, sang penempuh jalan spiritual
mestilah merasakan lathifah dari khafi-nya sendiri berada di hadapan khafi Nabi
Muhammad. Kontemplasi atas akhfa, sang penempuh jalan spiritual hendaknya
membayangkan bahwa lathifah akhfa-nya berada di hadapan akhfa Muhammad.
Sang penempuh jalan spiritual yang
mencapai hakikat melalui lathifah ini mengetahui dan menyadari apa yang disebut
baqa’ ba’da al-fana’ atau ‘kebakaan sesudah kefanaan’. Ia dikatakan sebagai
berada ‘dibawah kaki Muhammad’. Warna lathifah ini adalah hijau.
Pencerahan Ruh : Tajalliyyah ar-Ruh
Dalam terminologi kaum sufi, istilah
‘tajalliyyah ar-ruh’ atau ‘pencerahan ruh’ berarti mengisi ruh manusia dengan
pancaran cahaya kesaksian Allah dan gelora cinta-Nya. Menurut Al-Qur’an, ruh
manusia adalah amr atau perintahatau urusan Tuhan, seperti dalam QS al-Isra
ayat 85 yang artinya:’mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Jawablah,’ruh
adalah perintah atau urusan Tuhanku,...’’. ayat ini bisa ditafsirkan sebagai
bermakna bahwa ruh adalah mujarrad atau sebuah ‘entitas abstrak’. Yang dimaksud
dengan ‘perintah Tuhanku’ bermakna bahwa ruh termasuk dalam ‘alam al-amr’ atau
alam perintah dan ‘haqa’ atau keabadian dan bukan termasuk dalam alam ciptaan
serta kemusnahan. Alam perintah adalah juga alam gaib dan sekaligus alam
akhirat.
Kaum sufi menyebut ruh sebagai ruh
dan jiwa sebagai nafs. Menurut kasyi, ruh dalam terminologi kaum sufi adalah
sebuah lathifah dalam diri manusia dan sebuah entitas abstrak. Dalam
terminologi para filosof, ia adalah hembusan yang baik dalam hati. Imam al-Ghazali
mengatakan bahwa tubuh manusia itu laksana lampu, hati manusia seperti sumbu,
jiwa hewani bagaikan api dan ruh manusia seperti cahaya. Satu-satunya perbedaan
adalah bahwa cahaya lampu bergantung pada api, tetapi ruh manusia tidak
bergantung pada jiwa hewani. Ruh manusia adalah sesuatu yang hakiki dan jiwa
hewani bergantung padanya. Ia laksana lampu yang dinyalakan dari cahaya-cahaya
alam gaib. Hati adalah wadah anugerah Allah dan substansi spiritual. Substansi
spiritual ini adalah esensi manusia.
Dengan demikian, ruh bisa dipahami
sebagai satu, jika ditilik dari satu sudut pandang, dan banyak jika ditilik
dari sudut pandang lainnya. Itulah sebabnya dikatakan bahwa tak ada seorangpun
bisa mengetahui hakikat ruh. Menurut sebagian dari kaum sufi, mustahil
menyucikan jiwa tanpa mencerahi ruh terlebih dahulu. Akan tetapi, sebagian lagi
berpendapat bahwa hal ini bisa dilakukan dengan menyucikan hati terlebih
dahulu. Sebagian besar kaum sufi sepakat bahwa metode paling baik ialah bahwa
nafsu yang menyuruh kepada kejahatan harus ditundukkan terlebih dahulu dan
dikendalikan di bawah berbagai larangan dalam syari’ah. Seseorang mestilah
menyucikan hati dan sekaligus mencerahi ruh pada saat yang bersamaan. Untuk
pencerahan ruh, setiap hubungan yang dijalin oleh ruh, sesudah masuk ke dalam
tubuh, dengan dunia ini melalui indera persepsi dan pengetahuan, haruslah
diputuskan secara berangsur-angsur sebab segenap hubungan dan keterikatan
dengan dunia inilah yang menciptakan hijab atau tirai dan menjauhkan ruh dari Allah.
BAB III : GAGASAN UTAMA PENULIS
Membersihkan
hati
“Membersihkan hati” bermakna
menghapus darinya kecintaan pada dunia dan hal-hal duniawi serta menghilangkan
darinya segenap kesedihan, kedukaan, dan kekhawatiran atas segala sesuatu yang
tidak berguna. Kata “hati” (qalb) mempunyai dua makna : dalam satu arti, ini
adalah nama segumpal daging berbentuk kerucut yang terletak di sebelah kriri
dada dan berongga di dalamnya, mengandung darah serta dianggap sebagai sumber
ruh. Kita tidak membahas hati yang bersifat fisikal disini. Hati yang kita
bicarakan disini adalah wadah untuk menerima rahmat Allah. Substansinya
bersifat spiritual. Substansi spiritual ini adalah esensi manusia. Substansi
ini sajalah yang mempunyai persepsi, pengetahuan dan gnosis atau ma’rifah.
Inilah hati yang diperingatkan, dicela dan dihukum. Hati spiritual ini dengan
segumpal daging berbentuk kerucut tadi memiliki hubungan yang sama sebagaimana
hubungan aksiden dengan tubuh. Karena suatu sifat berkaitan dengan substansi
yang disifati, maka objek yang menempati ruang mempunyai hubungan dengan ruang
yang ditempatinya, dan sebuah alat dengan manusia yang menggunakannya. Hati
inilah yang disebut-sebut sebagai Arsy Allah dan hati inilah yang harus bersih
: “dibersihkan” dalam perjalanan spiritual.
Para syaikh dalam berbagai tarekat
berpandangan bahwa semakin manusia tenggelam dalam berbagai urusan duniawi dan
sibuk dengan hal-hal material, maka ia semakin beroleh banyak kesulitan dan
bertambah kesal. Semakin ia menyibukkan diri dengan memanjakan badannya dan
terus menerus kelewat memperhatikan penampilannya, maka keadaan mentalnya bakal
semakin memburuk, kemampuan spiritualnya memudar, kesucian dan kecemerlangan
hatinya kehilangan semangat, noda dan kegelapan pun makin bertambah. Inilah
sebabnya pengekangan diri dan hidup zuhud menjadi syarat-syarat yang mesti
dipenuhi dalam “kemajuan spiritual” (suluk). Dan menjauhkan diri dari segala
sesuatu selain Allah adalah salah satu dasar di jalan sufi menuju Allah.
Nabi Muhammad merasa heran dengan
orang yang beriman kepada rumah keabadian (yakni keluhuran spiritual) namun
berusaha demi rumah ketertipuan (yakni dunia inderawi dan jasmani): “Sungguh
mengherankan kalau seseorang mestinya menjamin untuk rumah keabadian namun
tetap berusaha dan bersusah payah mencari untuk rumah ketertipuan. Membersihkan
hati mustahil dilakukan kecuali bila cinta dan keterikatan pada dunia
dihilangkan darinya. Dunia itu sendiri tidaklah tercela, sebab dunia adalah
“tempat bercocok tanam atau ladang akhirat” dan sarana untuk mencapainya. Akan
tetapi, cinta pada dunia dan keterikatan kepadanya adalah sebuah rintangan.
Inilah makna ucapan Nabi, “Cinta dunia adalah pangkal dari kesalahan dan dosa”.
Bimbingan Syaikh
Syaikh-syaikh
sufi biasa membimbing dan mendidik murid dalam cara yang konsisten dengan
kapasitas dan psikologinya. Mereka tidak segera menariknya dari keadaan yang
ada pada dirinya, tidak pula mereka meminta sang murid mengerjakan berbagai
latihan ruhani. Mereka mengajarkan kepadanya praktik-praktik sufi yang sesuai
dengan tempramen dan kecenderungannya. Dengan demikian, secara bertahap dan
dengan cara yang mudah, mereka mengantarkan sang murid menggapai tujuannya.
Imam tarekat syadziliyah, Syaikh Abu al-Hasan asy-Syadzili, mengatakan,”Orang
yang membimbingmu dalam dalam cara yang konsisten dengan kesenangan atau
psikologimu sesungguhnya adalah seorang Syaikh sejati.” Ucapan ini sesuai
dengan sabda Nabi,”Agama itu mudah” atau “Bersikaplah lemah-lembut, dan jangan
bersikap keras serta kasar.” Tak dipungkiri lagi, pembimbing spiritual adalah
orang yang dianugerahi kekuatan spiritual dan mukjizati yang bisa menghancurkan
berbagai belenggu diri sendiri melalui kekuatan kemauan dan kehendaknya serta
melahirkan perubahan dalam diri sang murid yang telah memandang realitas
sebagai “permainan dan senda gurau”, sampai mengetahui bahwa : “Tidak ada
tempat lari dari Allah dan tidak ada tempat berlindung kecuali kepada-Nya
semata”.(QS.9:118)
Zikir
Manusia
yang diberkahi dengan pengetahuan batin memandang dzikr,”senantiasa dan terus
menerus mengingat” Allah, sebagai metode paling efektif untuk membersihkan hati
dan mencapai kehadiran Ilahi. Objek segenap ibadah ialah mengingat Allah dan
hanya terus menerus mengingat Allah (dzikr) sajalah yang bisa melahirkan cinta
kepada Allah serta mengosongkan hati dari kecintaan dan keterikatan pada dunia
fana ini. Ajaran islam paling dasar dan paling penting tersirat dalam syahadat
atau “pengakuan keimanan”, laa ilaaha illa Allah, yang berarti tada Tuhan
selain Allah atau tidak ada objek yang layak dan pantas disembah kecuali
Allah”. Dan ini tak lain dan tak bukan ialah terus menerus mengingat Allah. Ruh
doa ialah mengingat Allah. Tujuan puasa ialah menghancurkan sensualitas, sebab
jika hati dibersihkan dari kotorannya, maka ia akan dipenuhi dengan mengingat
Allah. Jadi, dengan dzikr, hati pun dipenuhi cinta pada Allah sedemikian banyak
sehingga tidak ada lagi tempat bagi yang lainnya. Sang murid, sesudah menerima
instruksi tentang dzikr dari syaikh-nya, mestilah menyibukkan diri seacara
penuh dengannya (setelah menunaikan salat wajib). Ia harus tidak mengerjakan
salat sunnat, tetapi mesti membatasi diri dengan dzikr saja, sepanjang siang
dan malam hari, dan pada setiap tarikan napas dengan memandang segala sesuatu
lainnya sebagai petaka dan bencana.
BAB IV : PENDESKRIPSIAN BUKU
Buku
“zikir dan kontemplasi dalam tasawuf” ini memberikan banyak manfaat yaitu
dengan buku ini saya menjadi lebih banyak tahu praktek ibadah-ibadah yang baru
diantaranya seperti zikir dan doa-doa setelah salat dan ibadah sunnah lainnya.
Dr.
Mir Valiuddin, penulis buku ini, sangat terampil dalam mengemas kata-kata dan
bahasa-bahasa untuk buku ini menjadi barang yang bermanfaat. Tentu saja, buku
ini diperuntukkan kepada orang yang sudah dewasa serta memahami Islam dan
memahami bahasa Indonesia yang baik dan benar. Akan tetapi, saya sendiri tidak
memahami seluruh dari isi buku ini. Ini dikarenakan penggunaan bahasa kiasan
dan bahasa-bahasa majas yang mungkin sebelumnya belum pernah saya pelajari.
Inilah yang menyebabkan saya agak kesulitan dalam membuat laporan buku ini.
Menurut
saya, buku ini memiliki cover yang kurang menarik. Karena yang ditonjolkan pada
cover buku ini adalah judulnya bukan penggambaran dari isi buku. Gambar dari
cover buku ini adalah seorang laki-laki memakai baju muslim yang sedang mengikuti
khutbah jum’at (ini menurut saya). Memang, bagi orang sufi atau tokoh agama,
cover tidaklah penting, tetapi isi dari buku yang lebih penting. Akan tetapi,
menurut saya yang masih termasuk orang awam, cover buku ini kurang menarik.
Untuk
masalah kertas, saya kira setiap buku baik novel ataupun buku pengetahuan
memiliki karakteristik yang sama yaitu tidak terlalu tipis dan tidak terlalu
tebal. Buku ini memiliki tebal yang
sedang yakni 300 halaman. Ini cocok dan pas untuk dibaca bagi pembaca pemula
karena jumlah halamannya tidak terlalu tebal seperti misalnya buku ensiklopedia
yang memiliki ketebalan yang tebal.
BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan
Manusia
yang diberkahi dengan pengetahuan batin memandang dzikr,”senantiasa dan terus
menerus mengingat” Allah, sebagai metode paling efektif untuk membersihkan hati
dan mencapai kehadiran Ilahi. Objek segenap ibadah ialah mengingat Allah dan
hanya terus menerus mengingat Allah (dzikr) sajalah yang bisa melahirkan cinta
kepada Allah serta mengosongkan hati dari kecintaan dan keterikatan pada dunia
fana ini. Ajaran islam paling dasar dan paling penting tersirat dalam syahadat
atau “pengakuan keimanan”, laa ilaaha illa Allah, yang berarti tada Tuhan
selain Allah atau tidak ada objek yang layak dan pantas disembah kecuali Allah”.
Dan ini tak lain dan tak bukan ialah terus menerus mengingat Allah. Ruh doa
ialah mengingat Allah.
B. Saran
Demikian laporan buku yang telah saya
buat. Semoga bermanfaat bagi pembaca. Kepada penulis buku ini terimakasih atas
ilmu yang telah diberikan melalui buku ini. Dan saya berharap untuk penulis
buku ini untuk terus berkarya. Namun, buatlah karya yang tidak hanya untuk
kalangan berbahasa tinggi, buatlah karya untuk kalangan awam agar orang awam
juga mengerti maksud dari penulis buku ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar